Kamis, 01 Agustus 2013

Merokok dan Jarang Makan Sayur? Hati-hati Risiko Kanker Usus Mengintai

Dibanding permen biasa, permen karet diklaim memiliki banyak kegunaan. Selain teksturnya yang lembut, permen karet dapat mengatasi bau mulut, memutihkan gigi, dan meringankan stres. Siapa sangka di dalamnya terkandung zat kimia yang dapat memicu kanker.

Sebuah penyelidikan di AS dilakukan The Health Wyze Report untuk mengamati bahan yang umum ditemukan dalam beberapa merek permen karet. Hasilnya menemukan bahwa kesemua bahan dalam permen karet diserap oleh aliran darah. Beberapa di antaranya terkait dengan penyebab kanker jika banyak dikonsumsi.


Seperti dilansir Medical Daily, Kamis (1/8/2013), bahan-bahan tersebut antara lain:


1. Aspartam

Bahan ini dipakai sebagai pengganti gula. Sempat dianggap tidak aman oleh badan pengawas obat dan makanan AS atau FDA (Food and Drug Administration) pada tahun 1980, aspartam akhirnya disetujui walau masih berisiko.

Aspartam adalah excitotoxin, zat yang merangsang neuron di otak. Pemakaiannya dapat menurunkan kecerdasan dan serangkaian masalah neurologis. Menurut studi pada hewan, aspartam diyakini menjadi karsinogen karena berkaitan dengan berbagai jenis tumor.


2. BHT (Butylated hydroxytoluene)

Pengawet BHT merupakan bahan yang umum ditemukan dalam permen karet. Menurut Health Wyze Report, BHT dapat meracuni sistem organ seperti ginjal dan menyebabkan kerusakan hati, juga berkaitan dengan hiperaktivitas pada anak-anak.

BHT bahkan telah dilarang di negara-negara lain karena berbahaya dan berpotensi karsinogenik. Namun oleh FDA di AS, risikonya masih dianggap dapat diterima untuk digunakan dalam makanan.


3. Kalsium Kasein Peptone-kalsium fosfat

Laporan menunjukkan bahwa bahan ini digunakan sebagai agen pemutih pada permen karet. Namun, bahan kasein sebelumnya terkait dengan keracunan susu formula diDiam-diam mematikan' mungkin kalimat tersebut cocok untuk jenis kanker yang satu ini. Ya, kanker usus besar merupakan salah satu kanker yang paling mematikan dan sulit disembuhkan. Kebiasaan sepele yang tidak sehat bisa memicu hadirnya kanker ini lho.

Dr Dean Koh, Ahli Bedah Mount Elizabeth Novena Hospital, dalam keterangan tertulis yang diterima detikHealth pada Kamis (1/8/2013) mengatakan orang yang berisiko terkena kanker usus besar adalah orang yang sudah berumur 50 tahun ke atas. Selain itu adalah mereka yang mempunyai riwayat kanker usus besar dalam keluarga. 


"Merokok, sering mengonsumsi daging merah, jarang mengkonsumsi buah juga sayur, dan jarang olahraga juga bisa jadi pemicu," kata Dr Dean Koh.


Gejala dari fase awal penyakit ini sering tidak terlihat atau sering diabaikan oleh penderitanya. Seperti masalah pada pencernaan atau buang air besar, terjadinya pendarahan pada feses, kehilangan berat bdan serta nafsu makan.


Untuk terhindar dari penyakit kanker usus besar, yang merupakan kanker pembunuh kedua ini, perlu untuk tidak mengabaikan gejala-gejala yang muncul. Segeralah periksakan diri ke dokter jika muncul salah satu gejala.


Selain itu pemeriksaan feses dan darah, juga kolonoskopi dapat dilakukan guna mencegah kanker ini berkembang biak dan terlambat ditangani. Dan bagi yang memiliki riwayat keluarga yang memiliki kanker usus besar, sebaiknya dilakukan screening setiap tiga tahun sekali.


Sayangnya, banyak orang yang tidak sadar bahwa ia mengidap kanker usus, sampai penyakit tersebut semakin parah, akhirnya kanker terdeteksi setelah sudah stadium lanjut. "Banyak penderita kanker usus besar yang tidak sadar bahwa mereka terjangkit penyakit tersebut sampai penyakit itu semakin parah," ujar Dr Dean Koh.


Setiap tahunnya sekitar 1 juta masyarakat di dunia didiagnosis menderita penyakit ini. Risiko penderita kanker usus besar meningkat tajam pada perempuan dan laki-laki berusia lanjut (50 tahun ke atas).


"Kanker kolorektal tidak berkembang dalam semalam. Setidaknya dibutuhkan sekitar dua tahun atau lebih untuk berkembang biak. Awalnya kanker ini tumbuh secara jinak (biasanya disebut polip) pada lapisan dalam usus. Polip ini mudah terdeteksi dalam kolonoskopi dan dapat dihapus pada saat yang sama tanpa banyak kesulitan," tutur Dr Dean Koh.


"Setelah dihapus, polip tidak mendapatkan kesempatan untuk berubah menjadi kanker. Ini berarti bahwa pemeriksaan terhadap usus kita sangat penting. Ini jelas berguna untuk orang dengan riwayat keluarga yang kuat dengan kanker usus besar dan bagi mereka yang berusia di atas 50 tahun," Dr Dean menambahkan.


Bahan ini merupakan protein rendah sarat dengan residu beracun yang dapat menyebabkan serangkaian efek samping yang buruk, yaitu mulas, gangguan pencernaan, dan alergi yang dapat berkembang menjadi gangguan kesehatan serius di masa depan.


4. Gum Base

Istilah ini digunakan oleh produsen permen karet sebagai sarana untuk menggeneralisasi daftar bahan yang tak dipublikasikan kepada publik. Para peneliti menemukan bahwa 'gum base' dihasilkan melalui campuran bahan yang dapat dikategorikan dalam 5 kelas.

Adapun kelima kelas itu antara lain: Elastomer untuk memberi kelenturan, Resin sebagai pengikat dan pelembut, Plasticizers untuk melembutkan elastomer dan mencampur bahan-bahan lain, Pengisi untuk mempengaruhi tekstur, dan Antioksidan untuk mencegah oksidasi dan menjaga rasa permen. Kesemua bahan ini dirahasiakan dari konsumen dan tetap menjadi misteri.


5. Titanium Dioksida

Bahan ini dapat menjadi faktor risiko asma dan penyakit Crohn. Titanium dioksida digunakan untuk membuat lapisan keras pada permen yang digunakan oleh banyak merek. Anak-anak paling besar kemungkinannya terkena bahan ini lewat permen yang mereka konsumsi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar